Laporan Webinar Workshop Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19 Selasa-Jumat, 31 Maret – 3 April 2020

Laporan Webinar Workshop Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19 Selasa-Jumat, 31 Maret – 3 April 2020

Reportase Kegiatan

Laporan Webinar
Workshop Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19
Selasa-Jumat, 31 Maret – 3 April 2020


Hari IV : Jumat, 3 April 2020

Kegiatan hari ini dimulai dengan review penugasan. Selanjutnya perwakilan dari beberapa peserta mempresentasikan hasil penugasan mereka dan menyampaikan kendala yang dihadapi dalam proses aktivasi Hospital Disaster Plan (HDP) berbasis Incident Command System (ICS). Beberapa RS yang presentase sebagai berikut :

  1. RS Tadulako Palu

    Kapasitas RS Tadulako Palu Hanya bisa melayani pasien ODP dan PDP, untuk pasien yang positif akan dirujuk ke RS Rujukan Sulawesi Tengah. Pasca gempa Palu, RS rusak berat jadi pelayanan dipindahkan ke klinik Undata.  Kendala saat ini adalah turn over tenaga kesehatan cukup tinggi karena kunjungan pasien berkurang.  Sistem koordinasi di rumah sakit berjalan dengan baik dan direkturnya aktif. Hal ini menjadi kekuatan bagi rumah sakit sendiri. RS jangan memaksakan harus melayani pasien positif jika memang keterbatasan sumber daya, tetap saja cukup sampai isolasi PDP.

  1. RSUD Selong Lombok Timur

    RS sedang merevisi ICS untuk Covid ini. Sejak bulan lalu sudah dilakukan perekrutan tenaga kesehatan sehingga untuk tenaga kesehatan sendiri tidak ada masalah.  Permasalahan sekarang adalah belum melatih jika terjadi pasien PDP yang positif dan sesak nafas di ruangan. Rumah sakit hanya mempunyai 1 ventilator. Kondisi lainnya yang menjadi komandan dan penanggung jawab operasional sama yaitu dokter spesialis paru. Sementara sekarang semua puskesmas konsultasi ke dokter paru, misalkan ada ODP dari puskesmas langsung konsul ke dr paru, jika ke UGD terkadang anamnesi kurang tepat. Pemateri menyarankan bahwa sebaiknya dokter spesialis paru full sebagai operasional saja sementara untuk manajemennya diganti orang lain. RS ditetapkan sebagai RS pusat rujukan. Sehingga harus mampu pada level 3 untuk penanganan COVID, meskipun misalnya sehari-hari tarif BPJS level B. Sekarang rumah sakit perlu melanjutkan untuk RS level 3. Jika pasien banyak maka dibuat bangsal baru. Jika ada 1 ventilator, 1 dirawat di ventilator, selebihnya bisa di ruangan ICU. Terkait pengembangan ini diusulkan dari RS ke dinkes setempat kemudian ke BPBD, jadi bantuan dari pusat bisa diturunkan ke BPBD kemudian ke Dinkes kemudian diteruskan ke RS.

  1. RSU Charlie Kendal

    Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan SDM sehingga memasukkan SDM ke struktur ICS – nya yang kesulitan, ada beberapa yang merangkap. Kemudian yang kurang adalah kuantitas bukan kualitas. Plan B bisa dicarikan relawan. Relawan bisa berhubungan dengan LSM atau PMI atau dengan organisasi yang dikenal. Berdasarkan struktur ICS bisa di bagian Liason Officer untuk penerimaan relawan. Untuk penerimaan bantuan atau logistik medis bisa di safety officer atau logistik. RSU Charlie Kendal bisa menangani pasien ODP dan PDP,  pasien positif akan dirujuk.

  1. RSA UGM

    ICS COVID-19 terpisah dengan HDP RSA UGM. COVID-19  ini dikepalai oleh dokter spesialis paru. Aktivasi ICS bisa dilakukan secara lisan dulu kemudian tertulis. Kalau tertulis itu terkait SPJ. COVID-19  berjalan bukan berarti pelayanan sehari-hari tidak jalan hanya saja pelayanan umum dibatasi untuk yang elektif. RSA UGM juga memiliki tim untuk kajian ilmiah. Kajian ilmiah ini melibatkan koordinasi dari berbagai unit. Para pakar dalm pengembangan kajian ilmiah ini bisa dimasukkan kedalam ICS sebagai pengarah tetapi terkait pelaksanaan teknis itu di bagian perencanaan.

  1. RSUD Sleman

    ICS sudah diperbaiki dan disesuaikan dengan hasil perbaikan penugasan dari fasilitator. Dalam SK Satgas sudah ada sekretaris, dan akan dimasukkan dalam skema. Kendala sekarang ini komandan sudah overload. Sehingga disarankan supaya komandan jangan hanya satu saja, boleh ditambah 2 atau 3 orang lagi dengan syarat pencatatan dan pelaporan tugas jelas. Jadi ada pergantian komandan, bisa pergantian dilakukan per minggu. Tim ICS ini memiliki masa jabatann, artinya SK Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit berlaku seterusnya namun SK ICS Penanganan COVID-19 ini usai setelah operasionalnya selesai.

  1. PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta

    Masih menggunakan satgas COVID-19, namun komukasinya sudah seperti ICS – nya. Setiap hari juga sudah dilakukan koordinasi. Untuk sistem informasi ada yaitu MCCC. Disana selalu update untuk kegiatan – kegiatan per hari. Selain internal juga ada pelayanan diluar misalnya informasi pencegahan covid. Jadi sistem komunikasi sudah dibangun ke eksternal.

 

Kesimpulan dari workshop hari ini adalah jika ICS sudah diaktifkan, harus melakukan evaluasi dan update melalui laporan tiap hari. Hal yang paling penting sekarang jelas pencatatannya, siapa – siapa saja tim yang terlibat dan ada laporan tiap hari. Sehingga ketika ingin mengeluarkan insentif sudah ada bukti yang jelas.  Fasilitator menyampaikan bahwa workshop ini akan berlanjut dengan topik yang berbeda yaitu Sistem Komunikasi dalam ICS. Harapannya peserta tetap mengikuti workshop tersebut untuk mematangkan persiapan manajemen penanganan COVID-19. Informasi selengkapnya terkait proses workshop ini bisa disimak di SINI


Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KM UGM

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments