Reportase Webinar  Isu Strategis Covid-19: Kolaborasi Prediksi dan Skenario Plan dalam Menghadapi COVID-19

Reportase Webinar Isu Strategis Covid-19: Kolaborasi Prediksi dan Skenario Plan dalam Menghadapi COVID-19

Reportase Kegiatan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan  Keperawatan (PKMK FK – KMK UGM) kembali menyelenggarakan webinar rutin dua kali seminggu terkait isu strategis berkaitan dengan pandemi COVID-19 pada Kamis (2/4/2020). Webinar kali ini mengambil topik kolaborasi prediksi dan rencana skenario dalam menghadapi COVID-19. Tujuan webinar kali ini untuk membahas beberapa skenario yang diprediksi akan dihadapi oleh Indonesia dalam kasus COVID-19 dan membahas strategi nasional yang direkomendasikan untuk bisa diambil.  Webinar ini merupakan kerja sama antara Ikatan Konsultan Kesehatan Indonesia (Ikesindo), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Perhimpunan Emergency Decision, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), PKMK – FKKMK UGM, Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Moderator webinar kali ini adalah Dr. dr. Tubagus Rachmat Sertika, SpA, MARS, dengan menghadirkan tiga narasumber berikut:

  1. dr. Masdalina Pane, MSI (Han) dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia
    Unduh Materi
  2. dr Iwan Ariawan, MPH dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
    Unduh Materi
  3. Prof. dr. Ascobat Gani, MPH, Dr.PH, Dewan pakar IAKMI dan dewan pakar Ikkesindo
    Unduh Materi

Dr. dr. Tubagus Rachmat Sertika, SpA, MARS membuka webinar dengan menyampaikan bahwa wabah COVID-19 merupakan ancaman negara yang mempengaruhi eksistensi dari bangsa Indonesia. Saat ini Presiden Republik Indonesia telah menetapkan hal ini sebagai darurat kesehatan masyarakat. Dan bukan hanya di Indonesia,  pandemi COVID-19 mengancam global health security yang dihadapi oleh semua negara di dunia. Oleh karena itu, seri penyebaran pengetahuan mengenai isu strategis menghadapi COVID-19 sangat diperlukan. Dalam webinar kali ini akan membahas tentang prediksi scenario yang harus dilakukan. Saat ini, telah diumumkan mengenai pembatasan sosial dalam skala besar dengan mengharapkan semua orang tinggal di rumah. Kita ingin tahu bagaimana ahli kesehatan masyarakat melihat hal ini.

Dinamika Penyakit Covid-19

Dr. Masdalina Pane, MSI memulai presentasinya dengan mengingatkan untuk berfokus terhadap dinamika penularan COVID-19 . Ada beberapa pilihan senario yang bisa terjadi. Pertama, jika berpikiran positif dan intervensi ini efektif dikerjaan, maka diperkirakan pandemi akan berakhir pada pertengahan juni. Sedangkan skenario terburuk jika pembatasan sosial tidak dikerjakan dengan baik, maka akan berakhir  Agustus. Hal ini merujuk pada perhitungan penambahan kasus dalam tiga kali masa inkubasi virus. Perhitungan lain adalah dengan Reproduction Rate. Ini untuk mengevaluasi apakah angka yang diumumkan oleh pemerintah sudah sesuai dengan perhitungan matematis. Pane menegaskan melalui pemodelan ini kasus COVID-19 ini sebenarnya sudah banyak, tapi belum teridentifikasi.  Jika dibandingkan dengan negara – negara lain yang memiliki critical case, seperti Italia dan Iran. Iran pada awal Maret, angkanya melebihi prediksi, namun di pertengahan Maret, sudah bisa mulai mengendalikan pergerakan COVID-19 . Negara yang dinilai terlihat mampu menurunkan angka kejadian adalah Korea Selatan.

Dalam skenario penularan, terdapat empat skenario yaitu: biru jika tidak ada kasus, hijau merupakan kasus sporadik, yaitu1 atau beberapa yang sifatnya impor, kuning adalah kluster khusus dimana didominasi penularan lokal dan merah dengan penularan di komunitas dengan jumlah kasus yang sudah meningkat secara bermakna dan sumber penularan sudah tidak lagi diketahui.  Di Indonesia sendiri, dinamika COVID-19 saat ini skenario penularan yang berwarna merah atau penularan di komunitas terdapat di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Tujuan pengendalian bisa berdasarkan skenario penularan tersebut. Untuk penularan di komunitas, tujuan pengendalian adalah memperlambat penularan, mengurangi jumlah kasus dan mengakhiri wabah di komunitas.

COVID-19 Modelling Scenarios

Di sesi kedua dr. Iwan Ariawan, MPH memaparkan tentang modelling scenario untuk COVID-19 yang disusun oleh pihaknya dan tim dari FKM UI. Dalam hal transmisi COVID-19 , Iwan menggunakan Basic Reproduction Rate (Ro) sama dengan dua, yang artinya setiap kasus menginfeksi setidaknya dua orang lainnya dengan waktu penggandaan 4 hari. Berdasarkan literatur yang dipakai, diketahui bahwa 86% kasus COVID-19 tidak terdeteksi atau tidak bergejala namun berpotensi besar untuk menular. Sedangkan 11.4% merupakan kasus ringan yang tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, dan sisanya adalah kasus berat seperti pneumonia, membutuhkan perawatan kritikal dan kasus fatal yang berakhir di kematian. Indikator lainnya adalah faktor transmisi, mengingat bahwa Indonesia memiliki penduduk yang banyak, angka insiden pneumoni yang cukup tinggi, lebih dari setengah populasi tinggal di daerah urban dan lebih dari setengah masyarakat Indonesia tidak mempraktekan hidup bersih dan sehat. Berdasarkan indicator – indikator tadi, maka estimasi orang yang terinfeksi jika tidak ada intervensi adalah sekitar 80 juta akan terinfeksi. Dari situ, berdasarkan literatur, 3% atau 2.4 juta kasus memerlukan perawatan di rumah sakit.

Untuk mencegah hal tersebut, intervensi kesehatan masyarakat yang bisa dilakukan adalah deteksi dini kasus, identifikasi kontak potensial, melakukan isolasi jika terdapat gejala ringan atau kontak, pembatasan sosial secara skala besar. Kita perlu belajar dari beberapa negara lain yang sudah memulai intervensi secara masif. Misalnya di Tiongkok yang melakukan isolasi dan pembatasan sosial ang bersifat wajib ditambah dengan skrining dan tes cepat di tempat umum maka di minggu kedua setelah intervensi terlihat jika penurunan kasus sudah mulai menurun. Contoh lain di Korea Selatan yang memberlakukan tes masal yang mudah diakses, pelacakan kontak, isolasi, monitoring jarak jauh dengan ponsel/kartu kredit dan pembatasan sosial, maka dalam dua minggu setelah intervensi, jumlah kasus juga menurun dengan rasio kematian yang rendah yaitu 0.8%.

Prediksi Kasus Covid-19 di Indonesia dengan Diberlakukan Intervensi

Ariawan kemudian menambahkan jika intervensi tinggi dilakukan di Indonesia, misalnya dengan tes massal dalam cakupan tinggi dan mewajibkan pembatasan sosial dalam skala besar, maka kasus di Indonesia bisa ditekan hingga 500 ribu. Hal yang perlu diperhatikan adalah sistem kesehatan di Indonesia sendiri. Mengingat jumlah tempat tidur RS rujukan COVID-19 di Indonesia yang bervariasi dari 117 sampai 5.568 tempat tidur per provinsi. Mampukah rumah sakit menghadapi ‘serbuan’ pasien COVID-19?. Oleh karena itu penguatan pengendalian dan pencegahan penyakit ini sangatlah diperlukan. Di akhir presentasi dr. Iwan Ariawan, MPH memberikan rekomendasi yaitu mewajibkan social distancing, memperluas rapid test untuk skrining, memperlakukan kebijakan khusus menghadapi libur hari raya, dan memenuhi kepbutuhan pelayanan kesehatan.

Memutus Rantai Infeksi

Selanjutnya Prof. dr. Ascobat Gani, MPH, Dr.PH memaparkan tentang prinsip pokok dalam mengatasi wabah pandemi adalah memutus mata rantai infeksi. Prinsip kedua yang tak kalah penting juga adalah kecepatan. Hal ini disebabkan karena contact rate COVID-19  itu  sangat tinggi jika. Gani kemudian mengutip Amata Sen, seorang nobel ekonomi yang menyatakan bahwa: “People are the real wealth of a nation”. Hal ini seharusnya menjadi pegangan dari para pengambil keputusan bahwa manusia adalah kekayaan yang paling utama dari sebuah bangsa. Sehingga menyelamatkan nyawa manusia adalah prioritas utama. Langkah – langkah utama dalam strategi operasional adalah: pencegahan, deteksi dan respon. Dalam pencegahan sudah banyak usaha yang dilakukan. Saat ini yang harus ditingkatkan fokusnya adalah deteksi dan respon. Gani berargumen bahwa dalam hal deteksi dini kita misal melakukan deteksi secara massal yaitu dengan memakai metode RDT. Walaupun sensitivitas RDT itu sekitar 60 – 70%, namun dalam epidemiologi, itu sudah cukup besar probabilitas untuk menemukan real  positive.

Beberapa kendala yang mungkin ditemukan di puskesmas adalah sumber daya maupun peralatan, dan hal ini bisa didukung oleh pemerintah dari pusat sampai ke provinsi. Hal lain yang ditekankan oleh Gani adalah jangan terlalu yakin dengan self-solation. Banyak masyarakat Indonesia di wilayah – wilayah tertentu tidak bisa melakukan isolasi mandiri di rumah, karena banyaknya orang yang tinggal dalam satu rumah. Oleh karena itu, pemerintah desa bekerja sama dengan puskesmas dan bisa memanfaatkan sekolah – sekolah untuk ditransformasikan menjadi tempat isolasi dengan memanfaatkan dana desa.

Dua prinsip utama kesehatan masyarakat  adalah menggerakan mesin birokrasi dengan komando pemerintah pusat maupun daerah dan menggerakan mesin sosial. Dalam hal mesin birokrasi, jangan lupa komando di tingkat kecamatan dan desa. Hal yang penting adalah unity of command, juga memberikan ruang untuk inovasi lokal. Kesimpulan dari pemaparan Gani adalah supaya skenario terburuk dari pemodelan yang telah dipaparkan di atas itu tidak terjadi maka diperlukan pemutusan rantai infeksi dengan cepat dengan memanfaatkan kolaborasi aktif antara pemerintah dan masyarakat. Surveilans adalah inti dari penanganan sebuah wabah.

Setelah pemaparan dari ketiga narasumber di atas, DR. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM dari IAKMi menyampaikan pembahasan mengenai materi yang telah disampaikan. Darmawan memulai dengan menekankan bahwa Presiden Jokowi telah menyampaikan darurat kesehatan masyarakat dan menganjurkan untuk daerah – daerah melakukan pembatasan sosial dalam skala besar untuk mengurangi transmisi virus. Kemudian, yang masih menjadi masalah kita adalah detection rate kita sangat rendah. Pemodelan dan realita penemuan kasus yang berbeda jauh. Hal ini mungkin disebabkan karena laboratorium deteksi masih sedikit dan jumlah spesimen yang diperiksa harian juga rendah. Dalam hal pencegahan, masyarakat dan organisasi berbasis masyarakat adalah target utama untuk pencegahan. Penyiapan fasyankes primer dalam hal ini puskesmas dan klinik juga diperlukan untuk melakukan deteksi dini.

Selanjutnya dr. I Nyoman Kandun, MPH memulai pembahasannya dengan menekankan bahwa negara Indonesia ini sangat luas sekali dan beragam. Hal yang paling penting untuk dipastikan adalah bagaimana mengadvokasi pengambil keputusan yang ada di daerah.  Dalam hal ini prinsip good governance haruslah diberlakukan. Kandun sepakat dengan penyampaian Gani bahwa pelibatan lintas sektor dalam penanganan COVID-19 itu adalah salah satu hal kunci. Hal penting lainnya adalah transparansi dan akuntabilitas dari pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. WHO telah mendeklarasikan kondisi ini sebagai pandemi. Menurut Kandun, hal Ini adalah kesempatan kita untuk memperkuat respon terhadap wabah. Kita sudah memiliki pengalaman saat menghadari SARS dan kejadian luar biasa lain. Sehingga itu bisa diperkuat. Kurva pandemi diharapkan agar turun dengan secepat – cepatnya dan serendah – rendahnya. Itu adalah salah satu tujuan  webinar ini dilakukan agar semakin mampu mengadvokasi pemerintah. Peraturan dan regulasi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah itu sudah cukup untuk kita melakukan intervensi.

Sebagai penutup ada beberapa kesimpulan yang bisa ditangkap dari webinar kali ini, antara lain:

  • Untuk menghindari skenario terburuk dari pandemi COVID-19 di Indonesia, seluruh elemen baik itu pemerintahan maupun masyarakat sipil harus bergerak, implementasi strategi intervensi berfokus pada strategi pencegahan dan pengendalian penyakit.
  • Penguatan fasyankes layanan primer terutama puskesmas perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi puskesmas untuk perluasan rapid tes secara luas dengan juga memperkuat triase dan PPI.
  • Tata kelola penanganan COVID-19 untuk dapat dilaksanakan dengan baik.

Akhir kata, moderator mengingatkan untuk semua pihak yang terkait supaya bisa dapat meningkatkan ketahanan kesehatan  Indonesia. Pandemi COVID-19 harus menjadi lesson learnt, supaya kesiapan epidemilogi ini harus diperkuat lagi dalam jangka panjang, agar Indonesia ke depannya selalu siap menghadapi tantangan kesehatan berupa wabah.

Reporter: Sandra Frans (PKMK UGM)


VIDEO REKAMAN

Pengantar Webinar Isu Strategis COVID 19 Kolaborasi Prediksi dan Skenario Plan Menghadapi COVID-19
Prev 1 of 2 Next
Prev 1 of 2 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments