Reportase Webinar Isu Strategis Covid-19 “Tantangan Dokter, Dokter Gigi dan Keperawatan dalam Menghadapi COVID-19””

Reportase Webinar Isu Strategis Covid-19 “Tantangan Dokter, Dokter Gigi dan Keperawatan dalam Menghadapi COVID-19””

Reportase Kegiatan

PKMK – Jogja. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan  Keperawatan (PKMK FK – KMK UGM) pada Selasa, 31 Maret 2020 pukul 13.00 – 15.00 WIB menyelenggarakan twice weekly webinar terkait isu strategis pandemi COVID-19 dengan tema tantangan dokter, dokter gigi dan keperawatan dalam menghadapi COVID-19.  Webinar ini bertujuan untuk mengetahui isu – isu strategis yang ada di Indonesia saat ini dalam kaitannya menghadapi pandemi  COVID-19. Harapannya dapat ditemukan solusi serta melakukan analisa masalah agar secara bersama -sama dapat mengatasi masalah yang diakibatkan oleh COVID-19.  Webinar ini terlaksana atas kolaborasi PKMK FK-KMK UGM dengan beberapa stakeholder COVID-19, dimoderatori oleh Prof. Laksono Trisnantoro dengan menghadirkan beberapa narasumber yaitu:

  1. DR. Moh. Adib Khumaedi, SpOT  selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI),
    Unduh Materi
  2. Dr. drg. RM Hananto Seno, SpBM (k), MM, FICD selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI),
    Unduh Materi
  3. Harif Fadillah, Skep, SH selaku Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) serta Sekjen KEMENKES RI yaitu drg. Oscar Permadi, MPH selaku keynote speech.
    Unduh Materi

drg. Oscar Permadi, MPH mengawali webinar dengan menyampaikan persiapan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19. Dari segi SDM, laboratorium dan rumah sakit terdapat beberapa langkah yang telah dilakukan pemerintah dalam menghadapi COVID-19 yaitu menunjuk jubir pemerintah sehari setelah adanya kasus yang terkonfirmasi, mendeklarasikan COVID-19 sebagai bencana nasional kategori non alam, membuat gugus tugas untuk mempercepat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Selain itu sebagai respon  teknik, pemerintah telah menunjuk 49 laboratorium rujukan di seluruh Indonesia, 132 rumah sakit rujukan pemerintah pusat, Dirjen yankes juga menerbitkan edaran terkait RSUD yang  dianggap mampu akan ditunjuk sebagai rumah sakit yang mampu dalam menangani COVID-19, serta rumah sakit dibawah BUMN/Swasta diperkenankan sebagai rumah sakit jejaring rujukan pemerintah, pemerintah membuat RS darurat (Wisma Atlet) dengan jumlah 3000 tempat tidur, pemerintah juga melakukan mobilisasi tenaga kesehatan, serta bekerjasama dengan Kemenristekdikti untuk melibatkan mahasiswa kedokteran. Saat ini terdapat 869 orang yang mendaftar sebagai relawan yang terdiri atas tenaga medis, farmasi, gizi, epidemiologi kesehatan, sanitarian, psikologi klinis, radiografer dan sebagainya. Diharapkan komponen masyarakat juga turut bekerja bekerja sama dalam menangani COVID-19. Dalam seminggu terakhir, pemerintah juga telah melakukan rapid test sebagai skrining awal.

KONTIJENSI PLAN TIM DOKTER MENGHADAPI COVID-19

Pada sesi pertama, Dr. Moh. Abid Khumadi, SpOT memaparkan bahwa data terkait COVID-19 perlu di – breakdown dan dikomunikasikan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan dimasyarakat karena data yang ada saat ini terkesan memperlihatkan bahwa angka kematian cukup tinggi di Indonesia. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi COVID-19 yaitu 1) Kesiapan tenaga medis perlu diperhatikan dimana perlunya pemahaman dan kemampuan tentang PPI & PE, 2) Dalam protocol kesehatan penanganan COVID-19, perlu diperhatikan bahwa tenaga kesehatan bukan hanya di garda depan melainkan juga di benteng terakhir, 3) tidak adanya alur rujukan yang terstruktur sehingga banyak tenaga medis yang menjadi PDP dan meninggal akibat tertular COVID-19 dari pasien, 4) Alur transportsi pasien perlu diperhatikan untuk meminimalkkan penularan. Fasilitas kesehatan perlu menerbitkan regulasi yang tegas untuk melakukan pemantauan kesehatan petugas yang harus dilakukan secara kontinu. Selain itu, perlunya memanfaatkan Mobile JKN atau aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk meminimalkan kontak dengan menyediakan aplikasi untuk tanya jawab sehingga pasien yang tidak emergensi tidak perlu datang ke faskes. Adapun kendala yang dihadapi tim medis adalah kelangkaan APD serta banyaknya pasien tidak jujur sebagai PDP ataupun positif saat mengunjungi faskes sehingga pasien tersebut disatukan dengan pasien lainnya. Karantina wilayah sangat penting untuk saat ini.

Tantangan Dokter Gigi dalam Menghadapi COVID-19

Melanjutkan pemateri pertama, pemateri kedua  Dr. drg. RM. Harnanto Seno, SpBM(k), MM, FICD menjelaskan bahwa pofesi dokter gigi mempunyai peluang besar untuk tertular COVID-19 karena hanya terdapat jarak 10 cm antara wajah pasien dengan wajah dokter gigi pada saat melakukan pemeriksaan. Dokter gigi perlu memiliki protokol tersendiri dalam pengobati pasien. Perlu strategi untuk mengetahui orang yang telah tertular COVID-19 tapi tidak disertai dengan gejala seperti demam yaitu dengan melihat permukaan lidah keputihan dan peradangan gusi serta mulut kembak dan lebih. Peraturan terkait penanganan pasien perlu diterapkan dari saat kedatangan pasien ditempat praktik, berada diruang tunggu, pada saat diruang prakterk dokter gigi dan saat pengobatan pasien usai.

Tantangan Tenaga Perawat Dalam Menghadapi COVID-19

Pada sesi ketiga, Harif Fadillah, Skep, SH memaparkan bahwa terdapat beberapa tantangan tenaga perawat baik dari segi teknis profesi maupun non teknis dalam menghadapi COVID-19. Tantangan teknik profesi adalah pemberian pelayanan fasyankes, ketersediaan manajemen SDM, sedangkan tantangan non teknis adalah munculnya stigmatisasi dan diskriminasi masyarakat, psikologi perawat, peran perawat di masyarakat dan keterbukaan informasi. Adapun upaya dalam mengatasi beberapa tantangan tersebut yaitu deperlukannya perhatian mengenai stigma dan diskriminasi oleh masyarakat, membuat modul terkait bimbingan psikologis untuk petugas medis, menyediakan fasilitas menginap dan akses transportasi  bagi perawat/nakes. Dalam menghadapi COVID-19 perlu dilakukan manajemen SDM perawat yaitu pengaturan shift dinas, perlunya pelatihan terkait PPI dan disposal, perlunya tenaga bantuan, perlunya dilakukan pemantauan kesehatan.

Berdasarkan data yang diperoleh oleh PPNI, APD dibutuhkan 933 rumah sakit, 3864 Puskesmas/Klinik di seluruh Indonesia. Data ini telah diinformasikan ke kepala gugus pusat sebagai bahan pertimbangan dalam pendistribusian APD dan perlunya pengawasan dari pemerintah pusat dan presiden dalam  proses pendistribusiannya

Selain pemaparan dari 3 narasumber, Ketua umum IDI menambahkan bahwa perlunya menyusun strategi agar COVID-19 dapat segera mereda. Adapun strategi tersebut antara lain :

  1. Memutus mata rantai penularan, social distancing perlu diupayakan penuh bukan hanya himbauan. Self isolation di rumah harus dikuatkan dan perlu diawasi. Siapa yang akan mengawasi? Bukan petugas kesehatan, akan tetapi melibatkan aparat pemerintah setempat, RT, RW, serta kader.
  2. Mencari kasus sebanyak – banyaknya agar dapat diobati dengan baik. Alur pelayanan harus terstruktur dengan didorong “3T”. “Tracing” harus tepat sasaran, dan harus tahu dimana tempat untuk melakukan Data pasien dan kontak seharusnya dibuka agar “tracking” dapat dilakukan, sehingga “testing” dapat dijalankan dengan optimal.

Selain Ketua umum IDI, Ketua umum PERSI juga turut menambahkan dari perspektif rumah sakit dimana  perlunya perhatian terhadap: 1) manajemen program dan majemen klinis di rumah sakit, 2) kelangkaan SDM harus  menjadi fokus utama dan 3) koordinasi di kabupaten/kota di daerah untuk saling  membantu antar rumah sakit jika ada yang punya pasien – pasien khusus.

Sebagai penutup ada beberapa kesimpulan yang dapat dirumuskan serta beberapa langkah yang perlu dikerjakan :

  1. Kelangkaan APD dan kurangnya SDM masih merupakan masalah utama
  2. Pentingnya memiliki protokol dalam menangani pasien covid-19 untuk meminimalisir penularan dari pasien ke tenaga medis
  3. Data terkait COVID-19 perlu dikomunikasikan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan dimasyarakat untuk meminimalkan stigma dan diskriminasi
  4. Kesiapan tenaga medis dengan meningkatkan pemahaman dan kemampuan tentang PPI

Reporter : Siti Nurfadilah H.


VIDEO REKAMAN:

Pembukaan dan Keynote Speech Tantangan Dokter Dokter Gigi Keperawatan dalam Menghadapi COVID 19
Prev 1 of 2 Next
Prev 1 of 2 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments