Laporan Kegiatan Webinar Pengalaman RSPI Sulianti Saroso Melakukan  “Pencegahan dan Pengendalian Infeksi COVID-19”

Laporan Kegiatan Webinar Pengalaman RSPI Sulianti Saroso Melakukan “Pencegahan dan Pengendalian Infeksi COVID-19”

Reportase Kegiatan

PKMK FK – KMK UGM telah menyelenggarakan diskusi manajemen COVID-19 pada 27 Maret 2020. Kali ini membahas tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi COVID-19 bersama tim PPI RSPI. Moderator kegiatan ini berasal dari  RS Sardjito yaitu dr. Andaru Dahesihdewi M.KES, Sp.PK(K).


Bagi pembaca atau tenaga kesehatan yang tidak sempat bergabung dapat mengakses forum diskusi pada link https://youtu.be/0wiGg4gD3l8. Untuk download materi silahkan klik disini


Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSh.,PhD dan Tim RSPI

COVID-19 muncul pertama kali di Wuhan dan saat ini menjadi pandemi di seluruh dunia. RSPI telah berpengalaman menangani beberapa kasus infeksi emerging yaitu:  probable SARS, H5N1, H1Ni, suspect ebola, zika, underinvestigasi MersCoV, difteri, dan COVID-19. Faktor potensial yang menyebabkan terjadinya infeksi yaitu adanya dosis infeksi, kepekaan manusia (susceptibility), waktu, keganasan mikroorganisme (virulence), dan daya tahan tubuh manusia (host defence).

Sebagai rumah sakit yang melayani penyakit infeksi, tim PPI melakukan berbagI pengalaman upaya untuk tidak terkontaminasi virus sehingga PPI RSPI dengan cara meningkatkan daya tahan pejamu, inaktivasi agen penyebab infeksi dan memutus rantai penularan.

Banyak petugas yang mengetahui tentang PPI namun tidak dipatuhi, namun hal tersebut juga dirasa tidak berlebihan karena akan menyebabkan tingginya cost. PPI penting karena belum ada terapi spesifik, vaksinasi belum ada, angka kematian belum diketahui pasti, pengobatan masih simtomatis, dan masih adanya human to human healthcare transmision.

Strategi PPI menangani COVID-19 antara lain:

  • triage, melakukan deteksi dini dan source control (isolasi)

Alur layanan kesiapan menghadapi COVID-19 di RSPI Sulianti Sar: Jika pasien datang sendiri langsung di screening di pos pemantauan kemudian dilakukan kategori apakah masuk kriteria orang dalam pemantauan (ODP) atau kriteria pasien dalam pengawasan (PDP). Jika pasien ODP maka langsung ke PE dan dipulangkan namun jika PDP maka langsung masuk pada triage isolasi dan dirawat di ruang isolasi. Jika pasien dirujuk dari faskes dengan kriteria PDP maka langsung dirawat di ruang isolasi dan tidak melewati IGD, proses rujukan tidak rujuk lepas tapi harus melalui konfirmasi.

  • menerapkan kewaspadaan standar
  • menerapkan kewaspadaan transmisi
  • menerapkan pengendalian administratif
  • menerapkan pengendalian lingkungan

Kewaspadaan standar:

  • Kebersihan tangan

Aplikasi 5 moment cuci tangan dengan cara: 1) sebelum menyentuh pasien; 2) sebelum melakukan tindakan aseptik; 3) setelah terpapar cairan tubuh berisiko; 4) setelah menyentuh pasien; 5) setelah bersentuhan dengan lingkungan pasien. 

  • APD: sarung tangan, masker, goggles face shield, gown/coverall, sepatu boot/shoe cover

Hal yang diperhatikan pada sarung tangan yaitu: bagian luar sarung tangan terkontaminasi, perhatikan cara melepas sarung tangan, buang sarung tangan di limbah medis, lakukan kebersihan tangan.

Hal yang diperhatikan pada saat menggunakan masker: lakukan tes segel saat memakai N95, jangan memakai masker bedah di bawah N95, jangan menyentuh bagian depan masker N95 karena terkontaminasi, buka masker dengan menyentuh bagian talinya bagian bawah terlebih dahulu, buanglah di tempat sampah jika selesai, lakukan kebersihan tangan setelah melepas APD.

Hal yang diperhatikan pada saat menggunakan goggles dan pelindung wajah: bagian terluar adalah bagian yang terkontaminasi, lepaskan dengan menyentuh bagian head band atau bagian dekat telinga, lepaskan di tempat khusus untuk diproses kembali.

Hal yang diperhatian pada gown/coverall: bagian depan gown dan lengan adalah bagian yang terkontaminasi, buka ikatan dan lepaskan bagian leher dan bahu dengan menyentuh hanya bagian dalam gown, bukalah dengan membalik bagian dalam agar terletak di luar, lipat atau gulung gown tersebut dan buang ke tempat sampah.

Hal yang diperhatikan pada perlindungan kaki: mencegah perlukaan kaki oleh benda tajam yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh, gunakan sepatu tertutup tahan tusukan dan kedap air.

Urutan pemakaian APD di ruang isolasi dilakukan dengan cara: petugas memakai baju kerja lapis pertama dan shoe cover; 2) membersihkan tangan; 3) memakai sarung tangan pertama; 4) memakai coverall namun bagian kepala tidak ditutup; 5) memakai sepatu boot; 6) memakai masker N95; 7) memakai goggle, kemudian tutup bagian kepala; 8) memakai sarung tangan dua lapis. Akan banyak guideline untuk pemakaian APD di ruang isolasi. Pemakaian APD disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia di masing – masing faskes. Petunjuk WHO, masker N95 dipakai terakhir karena jika lebih dulu dipakai maka akan terbatas saat menggunakan gown.

Pelepasan APD di ruang isolasi (anteroom): 1) disinfeksi sarung tangan memakai handrub; 2) disinfeksi sepatu boot dengan klorin 0,5%; 3) lepaskan sarung tangan bagian luar dan buang ke tempat sampah infeksius; 4) buka sepatu boot dengan menginjak bagian belakang; 5) buka coverall; 6) disinfeksi sarung tangan bagian dalam; 7) lepaskan goggle; 8) lepaskan masker N95 dan buang ke kantong infeksius; 9) lepaskan masker sarung tangan dalam dan buang ke kantong infeksius; 10) lakukan kebersihan tangan; 11) lakukan kebersihan diri (mandi).

  • Peralatan perawatan pasien

Peralatan pasien tersendiri dan sebaiknya sekali pakai misal stetoskop, termometer, dan tensimeter. Peralatan yang dipakai bersama, lakukan disinfeksi dengan ethyl alkohol 70% atau sesuai kebijakan RS dan rekomendasi pabrik.

  • Kesehatan lingkungan

Semua permukaan horizontal harus dibersihkan setiap hari. Pembersihan mengawali disinfeksi, gunakan diterjen untuk pembersihan permukaan non perawatan (area non kritis), permukaan yang sering bersentuhan dengan pasien harus dilakukan disinfeksi (area kritis), disinfeksi yang biasa dipakai di RS yaitu Na hipoklorit, alkohol, fenol, amonium quartener, hidrogen perokside. Hindari aerosolisasi, gunakan mop.

  • Pengolahan limbah

Limbah merupakan sumber potensial penularan penyakit. Perlu penanganan khusus agar tidak terkontaminasi, petugas terlatih tahu prosedur dan memakai APD yang sesuai. Hal yang diperhatikan dalam mengelola limbah yaitu: Limbah dari ruang rawat sudah dipisahkan sesuai jenis limbahnya, kantong sampah plastik hitam untuk limbah non infeksi dan kantong kuning untuk sampah infeksi, petugas dibagian pengelola limbah harus paham tidak membuka lagi limbah yang ada didalamnya segera dilakukan pembakaran melalui incenerator.

Penanganan benda tajam: jarum suntik hanya sekali pakai, 17% kecelakaan terjadi sebelum pemakaian, 70% sesudah pemakaian dan 13% sesudah pembuangan. Hands free saat menyerahkan benda tajam, jarum suntik langsung dibuang ke wadah dan hindari recapping, wadah limbah tajam harus tahan bocor, tahan tusukan, punya penutup dan ganti bila ¾ penuh.

  • Penatalaksanaan linen

Linen pasien PINERE berpotensi menularkan sehingga petugas harus memakai APD. Semua bahan padat pada linen kotor harus dihilangkan terlebih dulu, hindari aerosolisasi, tempatkan dalam kantong kuning tahan bocor, ikat bila sudah ¼ – nya, angkut linen dengan hati – hati, cuci dan keringkan linen infeksius sesuai standar, trolley linen bersih dan kotor harus dibedakan, transportasi/alur masuk linen kotor dan alur keluar linen berish harus tersendiri.

  • Perlindungan kesehatan petugas

Hal yang harus diperhatikan yaitu: gizi yang adekuat, evaluasi petugas kesehatan yang terpapar, petugas kesehatan yang sakit hamil tidak diijinkan bertugas di ruang isolasi, petugas dilarang menyentuh mata hdung dan mulut dengan sarung tangan tercemar, strict nurse barrier, minimum jumlah petugas sesuai standar perawatan, catat semua petugas yang masuk ke ruang pasien.

Pengendalian administratif: edukasi dan training, rasio pasien petugas cukup, surveilans petugas untuk infeksi respirasi akibat COVID-19, edukasi masyarakat tentang pentingnya mencari pengobatan bila sakit, monitor kepatuhan dan mekanisme untuk perbaikan.

Pengendalian lingkungan: ditujukan untuk infrastruktur fasyankes, ventilasi adekuat seluruh area pemisahan jarak kurang lebih 1,2 meter antar pasien, pembersihan lingkungan termasuk dekontaminasi ambulans, pembersihan dan disinfeksi secara konsisten dan benar, pembersihan permukaan dengan detergen,  disinfeksi umum seperti Na Hipoclorid.

  • Penempatan pasien

Tempatkan pasien pada ruang isolasi airborne ACH 12x/j, bila tidak ada tempatkan pasien pada ruang tersendiri dengan ventilasi yang baik pintu tertutup airflow 160 i/d, bila tidak ada ruaag tersendiri lakukan kohorting dengan pemisahan jarak >1,2 meter, batasi pergerakan pasien dari ruangan isolasi, pemeriksaan X Ray USG dan echocardiogram secara portabel.

Transportasi pasien: pasien memakai masker, minimalkan paparan kepada staf serta pasien lain dan pengunjung perhatikan rute, persiapkan area penerimaan pasien sebelum pasien tiba, petugas medis uang mambawa pasien harus mengenakan APD dan lakukan kebersihan tangan setelahnya.

  • Hygiene respirasi/etika batuk dan bersin
  • Praktek menyuntik yang aman

Teknik aseptik untuk mencegah kontaminasi alat injeksi, tidak menggunakan semprit yang sama pada pasien yang berbeda, satu kali pakai untuk satu pasien, gunakan single dose injeksi, tidak mencampur sisa sisa ampul untuk berikutnya, tidak mengunakan  cairan pelarut untuk lebih dari satu pasien.

  1. Praktek lumbal pungsi yang aman
  2. Pemulasaran jenazah infeksius dengan cara:
  3. Petugas melakukan kebersihan tangan dan memakai APD lengkap
  4. Memberikan label merah
  5. Menyiram/disinfeksi jenazah dengan klorin 0,5% dan diamkan 10 menit
  6. Dimandikan sesuai SPO
  7. Masukkan ke kantong jenazah kedap air
  8. Resleting diberi silikon dan jenazah tidak boleh dibuka lagi
  9. Masukkan ke peti jenasah dan segel
  10. Dekontaminasi ruang pemulasaran
  11. Petugas melepas APD dan mandi

Pertanyaan:

Bagaimana saran untuk RS melakukan setting atau design IGD, isolasi bangsal, dan ICU yang tidak mempunyai ruang terstandar untuk perawatan pasien airborne dan mempunyai resource terbatas termasuk finansial?

Jawaban:

Design IGD mempunyai ruang isolasi IGD yang khusus untuk kasus infeksius, jadi ruang isolasi infeksius tadi sudah ada tekanan negatif dan sebagainya, namun dengan kondisi ini RSPI sudah jadi rujukan untuk kasus PDP dan terkonfirmasi, maka yang dilakukan adalah menjaga jarak dengan pasien. Untuk kasus PDP dan konfirms ditempatkan di ruangan  yang dilengkapi dengan exhaust, perhatikan aliran udara, tambahkan exhaust supaya kondisi udara bagus. Exhaust ditempatkan di bawah sehingga lebih mudah untuk penyedotan, posisi exhaust bukan di atas. Mengurangi konsentrasi kuman dengan cara menambah exhaust supaya kondisi ventilasi udara lebih aman. Petugas di IGD harus pakai APD lengkap. Tindakan intubasi atau inhalasi yang menimbulkan aerosole diatur pada area terdekat dengan aliran exhaust. Exhaust berada di bawah pasien. Intubasi di ICU menggunakan APD  lengkap.


Bagaimanakah saran yang harus diperhatikan RS dalam melakukan transfer pasien antar unit? Apakah perlu dekontaminasi seluruh area?

Jawaban:

Terdapat alur perpindahan. Jika pasien dari IGD ke ruangan yang penting adalah semua yang berada disitu diamankan, ada satpam menyampaikan akan ada yang lewat. Dari IGD ke ruang isolasi menggunakan ambulans sehingga akan memutus alur dan karena kasus banyak bisa juga menggunakan koridor. Dekontaminasi seluruh area dilakaukan


Bagaimanakah saran RS dalam tata laksana jenazah yang baik menurut PPI?

Jawaban:

Pemulasaran jenazah pasien dimandikan, tidak langsung masuk ke kantong jenazah, ada SOP pemulasaran jenasah yaitu dibersihkan dengan klorin, kemudian petugas membersihkan dengan APD lengkap.


Bagaimanakah dan kapan dekontaminasi post rawat pasien COVID-19 ?

Jawaban:

Anjurkan general cleaning, virus mati dengan alkohol, disinfektan dan clorin.


Apakah dekontaminasi chamber yang diperjualbelikan saat ini terbukti aman dan efektif?

Jawaban:

Untuk manusia hidup bukan disinfeksi tapi manusia menggunakan alkohol. Tergantung jenis disinfektan. Harus antiseptik bukan disinfektan.


Bagaimanakan prosedur komunikasi sampling? Berapa lama hasil akan ada? apakah hasil positif dan negatif akan selalu diberikan secara resmi tertulis.

Jawaban:

Hasil konfirmasi sulit karena ini masalah nasional, hampir seluruh RS mengalaminya. Sulit  memulangkan pasien karena indikator pasien pulang adalah hasil lab negatif.


Untuk masker, apakah berlaku dibuang di tempat sampah infeksi? Dengan maraknya reusable masker disposable, bagaimana menyikapinya karena kelangkaan masker?

Jawaban:

Masker N95 yang langka, bahwa masker N95 digunakan oleh orang yang memberikan perawatan langsung ke pasien, ada guideline WHO yang menyatakan bahwa masker dipakai selama 8 jam, masker bedah dipakai unk menutupi masker N95. Masker N95 harus melekat di wajah. Jangan sebaliknya.


Jika disekitar lingkungan rumah ada anggota masyarakat yang mempunyai gejala seperti COVID-19 kemudian dibawa ke RS dan harus dirujuk ke RS pusat rujukan yang ada di provinsi tapi di RS rujukan tersebut full, apakah boleh langsung dibawa ke wisma atlet atau RSUP dr. Sulianti saroso? Atau harus bagaimana prosedurnya?

Jawaban:

RS darurat yang ada di jakarta ada 1 SOP yang dibuat bersama bahwa wisma atlet/ RS Sementara COVID-19  bisa langsung menerima pasien dari masyarakat langsung ataupun dari RS. RS Sementara COVID-19 juga dapat mengirimkan pasien untuk kasus yang berat. Sepakat tidak ada boleh yang rujuk lepas, harus ada konfirmasi.


Bagaimana standar ruangan untuk operasi dan partus pasien PDP?

Jawaban:

Standar ruang operasi bahwa ruanganya harus negaif dan APD lengkap, di RSPI belum ada pengalaman operasi PDP. Ruang operasi bertekanan positif.


Bagaimana RSPI menata SDM yg sudah kontak dengan pasien konfirm?

Jawaban:

Menjaga diri dan diberikan suplemen, PPI pengawasan lengkap, jika nakes sudah menggunakan APD. Rapid test untuk seluruh pegawai dan prioritas, jika positif rapid test maka lanjut dengan swab, bila positif maka akan diisolai di rumah ataupun dirawat pada nakses yang positif ataupun bergejala. Sehari bisa periksa 30-40, hasilnya sudah diterima, dirawat dan bahkan sudah ada yang sembuh.


Penulis: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH dari kegiatan webinar forum diskusi manajemen Covid-19.

VIDEO REKAMAN

Pengantar Webinar PPI dan APD terkait COVID-19
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next