Reportase  Webinar  “Diagnostik Laboratorium COVID-19”

Reportase Webinar “Diagnostik Laboratorium COVID-19”

Reportase Kegiatan Webinar
Kamis, 26 Maret 2020

Diskusi yang diselenggarakan PERSI bekerja sama dengan PKMK FK – KMK UGM ini dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan masyarakat luas mengenai ujung tombak deteksi pasien COVID-19. Bagaimana dan apa yang dilakukan oleh laboratorium untuk mendeteksi seseorang terkena COVID-19.

dr. Siswanto, MPH, DTM mengawali diskusi dengan menyampaikan posisi laboratorium (lab) Litbangkes Kemenkes. Dalam Konteks pandemi maka lab konfirmasi menjadi sangat penting, karena ini merupakan penyakit baru, maka memerlukan perlakuan khusus dalam proses pemeriksaannya. Hasil pemeriksaan akan dilaporkan untuk tiap hari per hari disampaikan ke P2P (Public health operating center).  Dalam SK Menkes HK 01.07 / 2020 mengatur jejaring pemeriksaan COVID 19. Badan litbang sebagai koordinator dan penjamin mutu pemeriksaan COVID-19. Mengacu pada peta setiap provinsi ada laboratorium pemeriksaan COVID-19 (Labkesda) dan RS universitas, namun tidak semua lab siap. Saat ini laboratorium yang sudah siap antara lain Laboratorium Litbangkes, Laboratorium Eijkman, BBLK Yogyakarta, BBLK Surabaya, Laboratorium Unair, dan BBLK Papua.  Lebih jauh lagi, dr siswanto menjelaskan mengenai prosedur pengambilan sample, persyaratan penyimpanan sampel untuk dikirim ke laboratorium dan teknis mengenai pengiriman sample melalui moda transportasi udara.

Melanjutkan pemateri pertama, pemateri kedua dr. July Kumalawati, Sp. PK (K), DMM menjelaskan mengenai teknis penyebaran virus yang saat ini beredar simpang siur bahwasanya penyebaran bisa melalui airborne tidaklah tepat. Penyebaran virus COVID-19 adalah melalui droplet atau cairan dari pasien COVID-19 yang bisa berbentuk aerosol, dimana dalam aerosol virus ini dapat bertahan hidup antara 2 – 3 jam.

Lebih jauh lagi dr. July menyampaikan mengenai proses pengambilan sampel dan metode pemeriksaan laboratoriumnya. Dalam proses pemeriksaan diagnostik ini perlu ditentukan bagian mana yang mau dilihat, dan tiap pasien memiliki berbagai macam reaksi terhadap virus, ada yang ringan, sedang, kritis dan bahkan ada yang tidak timbul gejala sama sekali.

Hari pertama terinfeksi, hal yang dapat dideteksi adalah RNA virus (inkubasi) kemudian gejala baru muncul hari ke – 4 atau 5, antibodi timbul hari ke 8 – 12, sehingga pemeriksaan negatif belum menjamin bahwa antibodi negatif. Berbagai parameter dapat digunakan untuk hasil pemeriksaan COVID-19, sehingga perlu hati – hati dalam interpretasi hasil pemeriksaan, karena COVID-19 ini tidak mengikuti kebiasaan bakteri dan virus yang sudah ada. COVID-19 ini memiliki kekhususan sendiri sehingga tidak bisa hanya sekali tes, tapi perlu pengulangan dan adanya konfirmasi dan divalidasi. Sementara dengan adanya rapid test yang akan dilaksanakan pemerintah dalam waktu dekat, hasil dari rapid test ini bisa saja negatif, tetapi apabila pasien menunjukkan gejala mengarah COVID-19 maka perlu adanya pemeriksaan konfirmasi/ lanjutan dalam proses penegakkan diagnosisnya. Dalam akhir paparannya, dr July menyampaikan bahwa COVID 19 merupakan penyakit baru yang memerlukan penelitan lebih banyak, termasuk untuk menentukan parameter laboratorium yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Reagensia yang dikembangkan masih pada tahap awal, memerlukan penelitan lebih lanjut untuk menentukan gen yang akan dideteksi, bila melakukan pemeriksaan antigen atau antibodi, serta epitoep yang dipakai. Apapun jenis pemeriksaan yang dipakai, diperlukan data gambaran klinis yang selengkap – lengkapnya.

Sebagai pembahas dr. I Nyoman Kandun, MPH, menyampaikan dari sisi epidemologis. Berdasarkan penjelasan presenter yang sebelumnya, maka dengan adanya keunikan pada virus ini maka perlu ada reassessment ulang mengenai risiko penyebaran virus ini. Kita harus bisa menilai daerah yang memiliki risiko terbesar dan melakukan proyeksi manajemen resiko. Keberadaan laboratorium pemeriksaan ini merupakan kunci utama untuk mempercepat pengendalian wabah, karena wabah dapat dikendalikan ketika diagnosis dapat ditegakkan. Untuk itu, perlu hasil pemeriksaan yang cepat. Dalam pengendalian risiko dapat mengacu pada rumusan berikut:

Risk = Hazard *vulnerable/capacity (to prevent, detect,respon)

Perlu adanya transparansi, akuntabilitas (perlu bersama – sama menghadapi COVID), pemeriksaan sensitivitas laboratorium (optimal dan maksimal) dengan dukungan logistik yang baik.

Berbicara tentang pendekatan sistem untuk pengendalian COVID maka perlu adanya software, hardware, brainware. Brainware ini harus mengacu pada konsep cooperation, coordination, collaboration (3 C) :

  • Apakah antar profesi sudah memiliki visi yang sama ? (Cooperation) 
  • Apakah sudah ada pembagian tugas? Siapa mengerjakan apa? (Coordination)
  • Siapa mempunyai apa? Untuk dikolaborasikan (Collaboration)

Penanggulangan COVID-19 ini perlu dilakukan secara well-organized untuk menghadapi COVID-19 agar tidak mengulangi kesalahan negara lain. Indonesia memiliki semangat gotong royong yang merupakan kekuatan nengara kita.

Pembahas kedua Prof. dr. Tjandra Yoga, MHA, DTM&H, DTCE, Sp.P, menyampaikan bahwa sebenarnya berbagai acuan WHO telah memberikan acuan yang diunggah di website who.int, dimana WHO membahi ke dalam 6 tema terkait COVID-19 ini, yang apabila dipahami 5 saja sudah dapat menjawab pertanyaan yang saat ini ada. WHO membagi tema tentang COVID-19 ini sebagai berikut:

  1. Advice for the public
  2. Advice for health workers
  3. Country & Technical Guidance
  4. Situation Updates
  5. Research & Development
  6. Scam Alert

Saat ini informasi mengenai COVID-19 diperoleh dari 3 sumber yakni Jurnal, berita resmi, dan media sosial. Sekiranya perlu adanya rujukan mengenai COVID-19 ini secara terpusat dengan diorganisir PERSI, seperti pada website WHO.

Pembahas ke – 3, Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM menyampaikan 5 aspek yang perlu disiapkan dalam manajemen laboratorium diagnosis COVID-19 ini:

  1. Kesiapan laboratorium : bahan – bahan tersedia
  2. Handling aspek teknis
  3. Akses dan equity, hampir seluruh provinsi sudah terkena COVID-19 sehingga akan menimbulkan lonjakan.
  4. Hasil diharapkan makin cepat diketahui maka makin mudah ditangani / ditanggulangi.
  5. Health system equity

Pada sesi tanya jawab memunculkan beberapa pertanyaan yang menarik antara lain mengenai rapid test yang akan dilaksanakan. Saat ini alat rapid test sudah didistribusikan ke provinsi – provinsi melalui dinas kesehatan. Alat rapid test ini dapat dipergunakan apabila sudah ada antibodi, sehingga apabila rapid test negatif tapi gejala klinis masih mengarah ke COVID-19 maka pasien dalam pemantauan (PDP) yang nantinya akan diperiksa kembali sebagai konfirmasi. Saat ini yang menjadi kendala adalah orang yang terpapar virus tetapi tidak menunjukan gejala. Hal inilah yang perlu diteliti lebih lanjut.

Untuk mempercepat deteksi dini pada penderita COVID–19 sebenarnya dapat menggunakan rapid test ready use kit PCR, rumah sakit bisa melaksanakannya, akan tetapi bersifat infeksius sehingga dalam pelaksanaanya memerlukan standar perlindungan diri yang tinggi.

Sebagai penutup ada beberapa kesimpulan yang dapat dirumuskan dan ada beberapa langkah yang harus dikerjakan:

  1. Kebijakan pemeriksaan laboratorium COVID-19 mulai sampling sampai proses penegakan diagnosa
  2. Bagaimana marker COVID-19, teknis pengambilan rapid tes dan bagaimana perlunya kira- kira interpretasi dan memperoleh penjelasan kapan harus kembali dan mungkin perlunya ke rumah sakit untuk tindakan selanjutnya
  3. Epidemologi, di Indonesia apakah menggunakan laboratorium sebagai basic – nya? Kapan Indonesia mengalami puncak COVID-19?
  4. Public Awareness perlu dibangun bersama – sama,  tidak mungkin dari pemerintah saja,dan saat ini masyarakat sudah bergerak dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Negara mungkin perlu hadir dalam hal ini dan kita perlu untuk membahasakan ke masyarakat luas.
  5. Pertanyaan tentang apakah inhibitor dapat mempercepat perkembangan virus SARS-Cov2 mungkin perlu dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Diskusi webinar ini ditutup dengan tepuk tangan panjang untuk seluruh tenaga medis Indonesia.

Reporter: Barkah Prasetyo (PKMK UGM)

Materi Webinar klik disini

Video Rekaman:

Pengantar Webinar Diagnostik Laboratorium COVID 19
Prev 1 of 2 Next
Prev 1 of 2 Next